Sabtu, 20 Juni 2015

Surat Untuk Ayah (8)

Assalamualaikum, Ayah! Selamat malam, Ayah.
Ngomong-ngomong hari ini sudah hari ke-3 di bulan Ramadhan tahun ini, Ramadhan pertamaku tanpa Ayah. Ayah pasti senang di sana, karena semua makhluk tak terkecuali sangat menantikan bulan suci ini. 

Ramadhan tahun ini selain tanpa Ayah, juga merupakan Ramadhan pertamaku sebagai pekerja. Ayah sudah tahu kan aku bekerja di sebuah law firm ternama ibu kota? Jadi, mungkin ini yang membuat hari-hari pertama Ramadhanku terasa tidak karuan dan nafsu makanku menurun drastis. Aku merindukan Ayah, merindukan rumah, dan merindukan sahur bersama di rumah. Tentu saja aku sangat rindu tahun-tahun sebelumnya saat aku pulang merantau dari kuliah dan Ayah pulang merantau dari kantor di ibu kota, kemudian kita berkumpul di rumah untuk sahur bersama dengan canda tawa yang selalu berulang namun tetap menghibur. Bahkan dulu kita pernah mudik bersama menggunakan travel karena kita kehabisan tiket kereta di ibukota, ingat kan Ayah?
Tahun lalu, kita masih sahur bersama. Aku merelakan diriku setiap akhir pekan berangkat merantau kuliah kemudian langsung kembali pulang ke rumah pada hari itu juga, menempuh 4,5 jam perjalanan naik kereta untuk berpuasa di rumah bersama Ayah. 

Tapi tahun ini sungguh sangat berbeda Ayah. Aku jauh dari rumah, dan sehabis subuh aku harus bersiap diri untuk kemudian pergi ke halte busway dan menempuh sekitar 18 KM agar sampai ke kantor tepat waktu. Waktu berbuka pun aku berada di kantor, kemudian berkemas pulang tanpa bisa sholat taraweh di masjid karena perjalanan untuk sampai ke rumah minimal butuh 1,5 jam. Tubuh ringkihku ini selalu menuntut waktu istirahat lebih namun rasanya sulit untuk dipenuhi.

Apa boleh aku berkata bahwa tahun ini adalah Ramadhan paling berat yang pernah aku jalani selama ini?
Karena Ramadhan tanpa bersama keluarga dan tanpamu Ayah, rasanya semakin berat. Banyak sekali ketakutanku akan pekerjaan yang tidak bisa aku bagi denganmu sekarang, tidak seperti sebelumnya dimana selalu ada saran dan motivasi darimu. Entah kenapa bagiku saat ini adalah saat dimana banyak orang di sekelilingku namun aku merasa sendiri. Lebih tepatnya harus bisa melakukan semuanya sendiri. Aku harus bisa menjadi penggantimu dengan melakukan semua usaha sendiri, dan ternyata tidak semudah itu.
Tetap selalu doakan aku dari sana ya Ayah!

How I missed our old days together, Dad.


Cinere, 20 Juni 2015.
Galau di kantor baru.

Senin, 08 Juni 2015

Surat Untuk Ayah (7)

Selamat malam, Ayah!
Adek mau lapor kalau sekarang sudah dapat pekerjaan loh. Alhamdulillah diterima di law firm besar ibukota, kalau disebut namanya pasti Ayah tahu deh, Mamah saja tahu. Memang bukan cita-citaku jadi pengacara seperti yang Ayah tahu, tapi paling tidak aku ingin menimba ilmu lebih dahulu dan Alhamdulillah kantor ini emberi remunerasi yang cukup besar untuk ukuran baru lulus. Satu alasan lain adalah karena sulit bagiku sekarang ini untuk mendaftar di perusahaan seperti yang Ayah sarankan. Karena untuk lolos medical check up bagiku saat ini mungkin hal yang sulit. 

Ayah ingat kecelakaan yang menimpa adek 5 tahun yang lalu? Iya, kecelakaan yang menyebabkan otak sebelah kanan ini lebam dan di hasil scan terlihat otak kananku dipenuhi bintik hitam banyak. Ternyata selama 5 tahun ini proses penyembuhan itu tidak berjalan dengan baik. Kita mengira semua sudah selesai dan sudah sembuh kan? Yah nyatanya ternyata masih ada gangguan itu dan juga organ tubuh lainnya. Jadi, mana berani menantang medical check up? Hehe. Doakan adek cepat sembuh ya Ayah! Biar bisa kerja hebat seperti Ayah, meskipun sulit rasanya menyamai Ayah yang masuk perusahaan dengan ijazah SMP merintis dari bawah menjadi kasir hingga akhirnya menjadi Sarjana dengan jabatan tinggi di ibukota.

Ngomong-ngomong tinggal hitungan hari memasuki bulan Ramadhan. Tahun ini puasa pertama tanpa Ayah nih pasti sepi nggak ada yang ngomel-ngomel lucu pas sahur. Masih ingat tahun kemarin Ayah sanggup puasa sampai 2 minggu Ramadhan sampai akhirnya Ayah drop dan terpaksa berhenti puasa, tapi salut dalam keadaan tubuh seperti itu Ayah masih kuat puasa. O iya, kemarin waktu pulang ke rumah, aku sempat berkunjung ke rumah Ayah, keadaannya bersih dan wangi. Sepertinya habis ada orang berkunjung. Syukurlah rumah Ayah selalu di kunjungi orang-orang yang menyayangi Ayah selain kami.

Adek kangen Ayah nih, rasanya masih seperti Ayah ada terus di dekat adek. Atau memang benar iya? Hehe. Good Night, Daddy. Sleep tight.



Cinere, 08 Juni 2015
Sembari menjawab konsultasi jual-beli rumah.

Sabtu, 18 April 2015

Surat Untuk Ayah (6)

Hai Ayah! Apa kabar? Pasti baik.
Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir aku menulis surat untukmu. Sudah berganti tahun sekarang dan aku punya banyak sekali kabar untukmu, Ayah. Aku yakin Ayah sudah tahu.
13 Januari 2015 kemarin anak keduamu ini sudah berhasil melewati 1,5 jam sidang yang pelik untuk dapat lulus dari Fakultas Hukum. Nilai A kupersembahkan untuk Ayah! Kemudian tak lama kabar buruk pun datang. 17 Januari 2015, Bapak pergi menyusul Ayah. Aku kembali kehilangan lelaki yang berarti dalam hidupku. Namun, sedihku tentu tidak ada apa-apanya dibanding Mamah yang kehilangan Ayah dan Bapak dalam waktu berdekatan. Semoga kalian bertemu dan berbahagia di sana ya, kami di sini selalu mendoakan kalian. Kemudian 7 Februari 2015 aku mewujudkan mimpi Ayah. Aku wisuda dan memperoleh gelar Sarjana Hukum, sama dengan Ayah. Ayah bisa lihat fotonya disini, kita sama!







Maaf Ayah, aku tidak langsung mencari kerja. Aku beristirahat dan pergi liburan ke Bali. Ayah ingat kan aku sudah minta izin ke Bali saat membeli tiketnya dan Ayah mengizinkan, aku pergi dengan uang beasiswa. Saat di Bali aku mendapat panggilan untuk tes di kantor pengacara yang lumayan besar, tapi Mamah berkata aku butuh liburan setelah melewati tahun 2014 yang berat.


Sampai saat ini Ayah, aku belum melamar kerja ke perusahaan, aku baru melayangkan surat lamaranku ke beberapa kantor pengacara. Sudah sekitar 5 kantor yang memanggil untuk tes dan beberapa aku lolos untuk tahapan selanjutnya. Doakan aku dari sana ya Ayah. Mencari kerja sesusah ini, jatuh bangun sampai sakit. Berdesakan di bus, dan masih harus menghadang angkutan umum. Betapa salutnya aku membayangkan bagaimana sulitnya Ayah dari pertama bekerja sebagai lulusan SMP hingga S1 dengan jabatan tinggi. Masalah datang silih berganti ke keluarga kita, kata orang itu hal biasa ketika ditinggal oleh kepala keluarga. Semoga ini tidak bertahan lama dan segera selesai. Dimanapun Ayah berada, doakan aku, doakan kami, doakan aku bisa mengubah keadaan dan doakan aku bisa seperti Ayah.


Oh iya Ayah! Akhir-akhir ini air mataku sering menetes tanpa sengaja. Pikiranku dipenuhi wajah Ayah. Mungkin aku rindu, Ayah pergi sudah 7 bulan, tepat tanggal 18 ini. Rasanya saat ini ingin sekali bercanda dengan Ayah rebahan di kasur. Karena dulu, sejauh-jauhnya dan selama-lamanya Ayah dinas, tak pernah sampai 7 bulan lamanya. Suratku sampai sini dulu ya Ayah, kalau Ayah baca, main-main ke mimpi aku ya hehe.


Cinere, 18 April 2015.
Berkaca-kaca.

Sabtu, 20 Desember 2014

Surat Untuk Ayah (5)

Selamat Malam, Ayah.
Lama tidak berbincang juga berjumpa.
Tidak terasa hampir genap 100 hari kita dipisahkan oleh dimensi.

Barusan saja aku menangis, Ayah. Bukan tanpa sebab.
Awalnya, rencanaku adalah menyalakan laptop kemudian menyempurnakan isi skripsi kita yang sudah aku buat hingga bab 5.
Tapi, entah jariku tiba-tiba beranjak ke satu folder berisi foto Ayah.
Jelas sudah penyebabku menangis malam ini.

Sesak sekali rasanya, Ayah.
Jelas rindu yang sangat besar yang saat ini bersarang dalam diriku.

Oh iya, skripsiku sudah sampai sejauh ini. Sudah bab 5.
Semakin aku berusaha mengerjakan skripsiku, aku tahu maka semakin dekat aku dengan sidang, dan jelas aku sadar bahwa itu akan mengantarkanku kepada wisuda.
Hari dimana rasanya setengah hati kuinginkan. Karena aku sadar, di hari itu tidak akan ada Ayah yang berdiri menyambut keberhasilanku.

Rasanya percuma.
Tapi aku tidak akan mundur, Ayah. Karena bagaimanapun kau menginginkan ini.
Tantangan berupa lulus di semester 7, dengan judul yang kau berikan dan objek penelitian yang kau instruksikan akan aku usahakan tercapai.

Tunggu aku menyandang gelar yang sama denganmu, Ayah.
Salam rindu.

Selamat Malam, Ayah.


Cinere, 20 Desember 2014.
Di sela-sela revisi skripsi.

Rabu, 12 November 2014

Surat Untuk Ayah (4)

Assalamualaikum, Ayah.


Selamat Hari Ayah!
Setidaknya itu yang orang-orang ucapkan di media sosial hari ini. Aku juga tidak mau ketinggalan, biar bagaimanapun aku ini punya Ayah kan? hehe.

Tidak ada hadiah, karangan bunga, ataupun hadiah sapu tangan untuk Ayah di hari Ayah ini, karena di hari Ibu pun tidak pernah ada hal semacam itu bagiku. Ayah tau kan, anak yang satu ini tidak pandai bermanis-manis di depan orang tua dan selalu to the point. Entah apa maksudnya ada hari ibu dan hari ayah, darimana mereka menentukan tanggalnya dan apa sebabnya. Belakangan aku tahu bahwa hari ibu itu adalah sejarah kongres wanita pertama digelar pada 22 Desember. Ya korelasi pada peran ibu kurang dong, karena itu bukan wanita saat menjadi ibu melainkan wanita saat memperjuangkan haknya. Seumur hidup belum pernah aku mengucapkan selamat hari Ayah kepada Ayah, dan saat aku mengucapkannya bahkan Ayah sudah tidak lagi bisa berkata terimakasih.

Oh iya Ayah, tanggal 10 November kemarin mamah tepat berusia 50 tahun dan tiada perayaan bagi mamah selain berkunjung ke rumah Ayah pagi-pagi sekali untuk melaporkan bahwa beliau berulang tahun. Hahaha lucu ya mamah, mungkin mamah berharap ada kado dari Ayah.Sayangnya untuk tahun ini tidak ada lagi kado-kado mahal yang bisa didapatkan mamah. Kami tidak bisa memberi kado rumah, handphone, maupun barang mahal lainnya seperti yang Ayah berikan pada ulang tahun mamah yang sudah-sudah. Rasanya pasti kosong dan sangat berbeda dari biasanya. Mungkin tahun depan aku yang akan merasakan ulang tahun tanpa telefon pagi-pagi dari Ayah kemudian transferan uang di siang harinya untuk makan-makan dengan temanku. Bersyukur tahun ini tepat di usiaku yang ke 21 Ayah masih menelefonku di pagi hari dengan sapaain 'hai' yang khas dan 9 hari setelahnya Ayah memberiku kejutan dengan satu 'pamit'. Oh iya, Ayah harus lihat ini, satu gambar lucu Ayah dan mamah saat ulang tahun mamah kemarin. Keren loh.

Oh iya Ayah hari ini aku habis wawancara di Gedung Arthaloka Sudirman, dan sekarang masih mengetik verbatim wawancaranya. Tadi aku wawancara di divisi compliance, Ayah juga dulu pernah ada di divisi itu kan? Dan ternyata tugasnya sangat banyak dan complicated. Ayah memang hebat, susah bisa membagi semua seperti Ayah. Mana bisa aku selesaikan skripsi dalam waktu kurang dari sebulan sambil bekerja dan lulus dengan IPK tinggi, ini sudah dua bulan dan aku baru sampai BAB 3. Doakan aku agar tidak patah semangat ya, Ayah. 

Sudah dulu Ayah, sepertinya verbatimku sudah minta disentuh lagi hehe. Ngomong-ngomong terima kasih akhir-akhir ini Ayah sangat sering datang ke mimpiku bahkan ketika aku demam. Mungkin karena dulu dari kecil obat demam paling manjur untukku adalah tidur di dekat Ayah ya, sehingga di mimpi pun aku demam dan seseorang mengantarkanku ke sebuah rumah yang ternyata aku disambut oleh Ayah. Terimakasih Ayah!

Sekali lagi, Selamat Hari Ayah! Aku rindu.



Cinere, 12 November 2014. Sambil mengerjakan verbatim.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Surat Untuk Ayah (3)

Assalamu'alaikum Ayah,

Halo Ayah, selamat malam. Ayah sehat kan?
Surat ini dibuat sebagai ucapan terimakasih karena Ayah sudah mengabulkan permintaanku di surat sebelumnya. Berarti Ayah baca suratku kan?

Iya, terimakasih Ayah sudah datang ke mimpiku semalam dan sedikit berbincang-bincang.
Jangan-jangan Ayah tahu kalau aku sedang sangat letih dan remuk redam akibat mencari data penelitian skripsiku.

Biasanya setiap aku berpetualang di jalan sendirian, aku akan segera cerita kepada Ayah yang setiap malam menelfonku. Kali ini aku ceritakan di surat ya Ayah.
Jadi kemarin pertama kalinya aku naik transjakarta sendirian loh, demi mengajukan permintaan bahan penelitian skripsiku dan skripsi Ayah (Ayah yang kasih judul kan hehe).

Aku naik krl, lalu berjalan kaki ke halte transjakarta, lalu turun dan berjalan lagi. Sampai di tempat tujuan, aku hanya diperbolehkan menaruh surat ijin penelitian dan diberi nomor telefon kemudian tidak sampai lima menit aku kembali pulang. Aku berjalan kaki ke halte, naik transjakarta, turun dan berjalan lagi ke stasiun, turun dari krl berjalan kaki ke terminal, dan naik angkot dua kali kemudian jalan lagi sampai rumah. Perjalanan memakan waktu empat jam Ayah dan aku tidak sampai lima menit di tempat tujuan. Iya, aku letih sekali dan tertidur pulas saat mengetik Bab II skripsiku.

Ayah yang memang pengertian datang ke mimpiku dan menghibur tubuh yang mudah mengeluh ini. 
Ayah bilang bisa datang kapan saja melihat aku dengan meminta ijin dari dunia Ayah di sana saat aku tanya apakah Ayah bisa sering-sering datang.

Kemudian Ayah menanyakan tentang pacarku, aku jawab ia datang saat Ayah pergi namun Ayah tidak sempat bertemu dengannya. Lalu Ayah bilang, itu gampang karena Ayah bisa kapan saja melihat dia.
Hari ini rasanya senang sekali terbangun dengan mimpi kau kunjungi, karena rasanya begitu dekat dan mengobati sedikit rindu. Ayah datang dengan pakaian bagus dan tubuh gagah seperti sebelum Ayah sakit. Sekarang Ayah sehat kembali.

Oh iya, aku bercerita tentang kunjungan Ayah semalam ke mamah di telefon barusan. Mamah iri katanya. Mamah sangat ingin dikunjungi oleh Ayah. Bapak juga kata mamah akhir-akhir ini tidak mau pakai sarung jika bukan sarung milik Ayah, kata bapak beliau rindu Ayah. Sungguh Ayah memang pria yang baik, bahkan orang yang sudah pikun seperti bapak bisa bersikap seperti itu karena kesan Ayah di setiap orang terdekat selalu mendalam.

Suratku kali ini sampai disini dulu Ayah, aku sedang melanjutkan Bab II skripsiku saat ini. Kalau Ayah sempat, berkunjung ya ke mimpi mamah malam ini. Beliau mungkin wanita yang paling merindukan Ayah, di setiap malam yang (tadinya) kalian habiskan bersama.

Wassalamu'alaikum Ayah :)


Cinere, 11 Oktober 2014. Ditulis di sela-sela mengerjakan Bab II skripsi khusus untuk Ayah terbaik.

Senin, 06 Oktober 2014

Surat Untuk Ayah (2)


Kepada ayah yang akan selalu dirindukan di rumah.


Surat ini adalah surat kedua yang aku tulis setelah kemarin aku mendapat jawaban bahwa surat pertamaku di hari ulang tahun ayah tidak akan pernah ayah baca dan tentunya surat-surat selanjutnya pun demikian.

Kepada ayah yang akan selalu dirindukan sosoknya oleh anak perempuannya.

Kepada ayah yang selalu menjadi panutan anak perempuannya sejak masih di bangku taman kanak-kanak.

Kepada ayah yang melindungi anak perempuannya dari gangguan makhluk halus di rumah meski ketakutan.

Kepada ayah yang mencari anak perempuannya seharian dengan cemas hanya karena anak perempuannya tertidur sendirian di bukit saat bermain sepeda.

Kepada ayah yang membawa anak perempuannya ke kantor untuk bermain dan menemani lembur di malam hari.

Kepada ayah yang hanya dengan pelukannya semalam dapat meredakan panas anak perempuannya yang demam.

Kepada ayah yang mengajari cara bermain melodi gitar meskipun anak perempuannya tak kunjung bisa dan berpaling tertarik pada drum.

Kepada ayah yang kurindukan gelak dan canda tawanya di meja makan.

Kepada ayah yang rela kerja selama belasan tahun berpisah jauh dari keluarga demi kehidupan kami yang lebih layak.

Kepada ayah yang selalu bekerja keras demi memenuhi permintaan anak perempuannya yang tak selalu wajar.

Kepada ayah yang selalu mencium kening anak perempuannya saat akan berangkat merantau untuk bekerja.

Kepada ayah yang selalu berkata tak apa ketika anak perempuannya khawatir di balik telefon.

Kepada ayah yang selalu kukirimi sms setiap pagi saat akan menghadapi ujian.

Kepada ayah yang lebih memilih menjenguk anak perempuannya di tempat kost dengan kereta ketimbang beristirahat ketika sakit.

Kepada ayah yang dengan sabar bertahan selama 4 tahun dan berjuang untuk tetap bersama kami.

Kepada ayah yang pergi dengan indah dan menyisakan kerinduan panjang yang sulit terobati.

Hai, ayah. Apa kabar disana?

Ayah sudah tidak lagi merasakan sakitnya jarum suntik yang ayah takuti saat akan hemodialisa. Pasti ayah sudah senang kan sekarang? Apa ayah mendapat tempat yang bagus disana? 
Pikiranku dipenuhi banyak rasa penasaran. Apa ayah bisa melihatku dari sana? Ayah lihat kan anak perempuanmu yang nakal ini sedang berusaha mewujudkan impian ayah untuk wisuda dalam waktu cepat. Oh iya, judul skripsi titipan ayah juga sedang dalam proses kok.

Kalau ayah disini pasti ayah akan mengarahkan dan memberitahu apa yang harus aku lakukan saat membuat skripsi. Tapi, tanpa ayah disini ayah tahu kan kalau anak perempuanmu yang satu ini tidak pernah menyerah untuk membuat orang tuanya bangga.

Aku tidak akan bertanya kenapa ayah pergi begitu cepat. Ayah sejak dulu memang selalu pergi dinas, hanya bedanya kali ini yang mengeluarkan surat dinas adalah Tuhan dan ayah diperintahkan dinas selamanya. Dan ini memang sudah ditentukan sejak ayah berumur 4 bulan di kandungan nenek.

Ayah, sempat ada rasa sesal mengganjal di hatiku. Kenapa aku tak meluangkan banyak waktuku untuk merawat ayah. Kenapa aku tak pulang lebih sering untuk meracik obat ayah dan membuatkan oatmeal setiap pagi lalu bersenda gurau di sofa ayah di depan televisi. Kenapa aku selalu berpikir ayah akan membaik dan akan baik-baik saja sehingga aku dengan tenangnya kuliah tanpa tau ayah menahan sakit dan merasa sepi.
Semua orang bilang aku sudah cukup merawat dengan baik hingga proses pemandianmu di ruang pemulasaran rumah sakit. Semua bilang aku yang paling dekat denganmu, bahkan saat malaikat datang ayah memberitahuku. Tapi ayah, buatku semua itu tidak akan pernah cukup dan tidak ada apa-apanya. Bahkan aku belum memberikan kebanggaan untukmu ayah, belum sempat.

Ayah, kau pergi dengan sangat indah dan meninggalkan banyak cerita tentangmu yang bahkan baru kutahu dari orang lain setelah ayah pergi. Cerita yang berisi sejuta kebanggaan dan kisah heroikmu. Keputusanku untuk menjadi seperti ayah sejak kecil hingga saat ini tidak pernah salah kan?

Ayah, saat aku datang ke kantor ayah aku membuka akun karyawan ayah. Maaf aku lancang. Tapi, dari situlah aku tahu ada banyak penghargaan yang ayah peroleh dari kantor namun tak pernah ayah pamerkan pada kami. Ayah tetaplah figur ayah sederhana di rumah yang akan mengenakan kaos oblong dan menyapu serta menyiram halaman depan agar tidak berdebu. Aku pun tahu dari akun ayah berapa besar pendapatan ayah per bulan, namun ayah tidak membiarkan anak perempuannya merasa jumawa dan menganggap uang membeli kebahagiaan. Ayah tetap membagi dua pendapatan ayah untuk kami dan untuk keluarga ayah sejak pertama kerja hingga saat terakhir ayah. Berkat didikan ayah, anak perempuanmu tumbuh tidak haus akan uang dan tidak masalah bahwa pendapatan ayahnya harus dibagikan ke lainnya. Ayah bilang anak lelaki memang harus bertanggung jawab pada keluarganya. Sampai kapanpun.

Ayah, tahukah ayah banyak sekali orang yang menangis di pemakaman ayah?
Ayah harus bangga karena aku tidak menangis saat itu, pun saat aku memandikan ayah. Bukan aku tidak sedih yah, tapi aku harus kuat demi menunaikan bakti terakhirku sebagai anak perempuanmu saat kau masih di dunia. Aku harus kuat demi menyentuh kulit ayah dan membersihkannya perlahan agar ayah pergi dalam keadaan suci.

Ayah masih ingat janji terakhir yang aku bisikkan saat ayah terbaring koma? Aku berkata di telinga ayah bahwa aku sudah besar dan pasti sukses, ayah pergi saja dengan tenang karena semua aman dan aku berjanji menjaga mamah dan 3 anak ayah lainnya. Aku akan berusaha menepati janji itu ayah, tapi aku tetap butuh bantuan doa ayah dari sana.

Ayah, orang bilang 40 hari setelah seseorang meninggal, maka orang tersebut akan tetap berada di sekitar rumah sebelum ia benar-benar pergi. Apa benar itu ayah? Apa benar ayah yang tidur di sebelahku pada malam sesudah pemakaman ayah? Bisakah ayah pergi mengunjungi aku di tempat rantau karena aku tidak bisa selama 40 hari berada di rumah. 

Ayah, di setiap doaku saat ini selalu ada nama ayah. Jika memang doa anak perempuanmu merupakan salah satu amal yang tidak terputus ketika seseorang meninggal, maka akan aku lakukan seumur hidupku untuk menolong ayah disana. Baktiku kepada ayah saat ini hanya bisa sebatas kiriman doa dan menjaga wanita yang ayah cintai yaitu mamah. Mungkin aku akan mengurungkan niatku untuk berkarier setinggi mungkin karena aku tahu ayah juga pasti akan setuju jika aku lebih mengutamakan mamah dari apapun.

Ayah, suratku kali ini cukup sampai disini. Aku hanya ingin menyapa ayah dengan segala memori yang ada. Disini, aku sangat merindukan ayah dan tidak tahu bagaimana mengobatinya selain dengan doa. Datanglah ke mimpiku ayah, akan senang rasanya jika bisa mendapat pelukan dan semangat yang biasa kau berikan agar aku dapat segera mewujudkan mimpi ayah, meski itu di dalam mimpi.

Aku sayang ayah, baik-baik disana ayah, ada saatnya kita dipertemukan kembali nantinya. 



dari anak perempuanmu yang ingin meluapkan rindu.
Cinere, 6 Oktober 2014. Dengan susah payah membendung air mata agar tidak memberatkan ayah.

backsound : .... untuk ayah tercinta, aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi...