Kamis, 13 Agustus 2015

Surat Untuk Ayah (10)

SELAMAT ULANG TAHUN AYAH.


Halo Ayah! Selamat ulang tahun yang ke 54 tahun ya.
Tepat satu tahun sejak aku membuat surat pertamaku untuk  Ayah di sini.
Ini adalah ulang tahun pertama Ayah yang tidak bisa aku ucapkan lewat telepon genggam.

Rasanya masih terngiang di ingatanku ketika aku masih duduk di kelas 2 SD dengan usia sekitar 7 tahun, pada awal bulan Agustus sudah mempersiapkan uang saku yang ditabung untuk membelikan Ayah kado ulang tahun. Kado pertama saat itu yang mampu aku berikan adalah sapu tangan untuk Ayah bekerja, karena Ayah adalah Raja Keringat. Saat itu rasanya sungguh bangga, bahagia dan puas ketika melihat Ayah suka dengan hadiahku.

Sekarang bahkan aku mampu membelikanmu selusin sapu tangan tanpa harus berpuasa uang jajan, Ayah. Aku mampu belikan banyak dengan gajiku sekarang. Tapi Ayah sudah tidak butuh kado itu dariku. Mungkin aku terlambat untuk membuat Ayah menikmati jerih payahku. Aku pun sangat payah saat ini, datang menjenguk Ayah di hari ulang tahun Ayah saja sekarang aku tak bisa. Aku belum bisa pulang karena tuntutan pekerjaanku saat ini. Maaf ya Ayah.

Surat ini aku tulis di kantor dengan sedikit akting sedang mengetik pekerjaan di depan orang-orang kantor. Tentunya dengan usaha keras menahan air mata rindu. 

Sekali lagi, Selamat Hari Kelahiran, Ayah! Semoga selalu bahagia ya! Amiin.


Kuningan, 13 Agustus 2015

Selamanya, tanggal ini akan selalu spesial dan tertanam di memori otakku.

Selasa, 14 Juli 2015

Surat Untuk Ayah (9)

Hai Ayah.
Ramadhan sebentar lagi berakhir dan lebaran sudah di depan mata. 
3 hari lagi.
Menyadari hal ini, hanya ada satu hal yang terlintas di pikiranku; yaitu engkau.


Ayah, jangan sedih.
Jangan sedih meskipun Ramadhan yang sangat berarti ini akan berakhir.
Jangan menangis.
Sebisa mungkin doaku akan selalu ada.



Kuningan, 14 Juli 2015
Sembari mendengarkan percakapan menjelang libur lebaran.

Sabtu, 20 Juni 2015

Surat Untuk Ayah (8)

Assalamualaikum, Ayah! Selamat malam, Ayah.
Ngomong-ngomong hari ini sudah hari ke-3 di bulan Ramadhan tahun ini, Ramadhan pertamaku tanpa Ayah. Ayah pasti senang di sana, karena semua makhluk tak terkecuali sangat menantikan bulan suci ini. 

Ramadhan tahun ini selain tanpa Ayah, juga merupakan Ramadhan pertamaku sebagai pekerja. Ayah sudah tahu kan aku bekerja di sebuah law firm ternama ibu kota? Jadi, mungkin ini yang membuat hari-hari pertama Ramadhanku terasa tidak karuan dan nafsu makanku menurun drastis. Aku merindukan Ayah, merindukan rumah, dan merindukan sahur bersama di rumah. Tentu saja aku sangat rindu tahun-tahun sebelumnya saat aku pulang merantau dari kuliah dan Ayah pulang merantau dari kantor di ibu kota, kemudian kita berkumpul di rumah untuk sahur bersama dengan canda tawa yang selalu berulang namun tetap menghibur. Bahkan dulu kita pernah mudik bersama menggunakan travel karena kita kehabisan tiket kereta di ibukota, ingat kan Ayah?
Tahun lalu, kita masih sahur bersama. Aku merelakan diriku setiap akhir pekan berangkat merantau kuliah kemudian langsung kembali pulang ke rumah pada hari itu juga, menempuh 4,5 jam perjalanan naik kereta untuk berpuasa di rumah bersama Ayah. 

Tapi tahun ini sungguh sangat berbeda Ayah. Aku jauh dari rumah, dan sehabis subuh aku harus bersiap diri untuk kemudian pergi ke halte busway dan menempuh sekitar 18 KM agar sampai ke kantor tepat waktu. Waktu berbuka pun aku berada di kantor, kemudian berkemas pulang tanpa bisa sholat taraweh di masjid karena perjalanan untuk sampai ke rumah minimal butuh 1,5 jam. Tubuh ringkihku ini selalu menuntut waktu istirahat lebih namun rasanya sulit untuk dipenuhi.

Apa boleh aku berkata bahwa tahun ini adalah Ramadhan paling berat yang pernah aku jalani selama ini?
Karena Ramadhan tanpa bersama keluarga dan tanpamu Ayah, rasanya semakin berat. Banyak sekali ketakutanku akan pekerjaan yang tidak bisa aku bagi denganmu sekarang, tidak seperti sebelumnya dimana selalu ada saran dan motivasi darimu. Entah kenapa bagiku saat ini adalah saat dimana banyak orang di sekelilingku namun aku merasa sendiri. Lebih tepatnya harus bisa melakukan semuanya sendiri. Aku harus bisa menjadi penggantimu dengan melakukan semua usaha sendiri, dan ternyata tidak semudah itu.
Tetap selalu doakan aku dari sana ya Ayah!

How I missed our old days together, Dad.


Cinere, 20 Juni 2015.
Galau di kantor baru.

Senin, 08 Juni 2015

Surat Untuk Ayah (7)

Selamat malam, Ayah!
Adek mau lapor kalau sekarang sudah dapat pekerjaan loh. Alhamdulillah diterima di law firm besar ibukota, kalau disebut namanya pasti Ayah tahu deh, Mamah saja tahu. Memang bukan cita-citaku jadi pengacara seperti yang Ayah tahu, tapi paling tidak aku ingin menimba ilmu lebih dahulu dan Alhamdulillah kantor ini emberi remunerasi yang cukup besar untuk ukuran baru lulus. Satu alasan lain adalah karena sulit bagiku sekarang ini untuk mendaftar di perusahaan seperti yang Ayah sarankan. Karena untuk lolos medical check up bagiku saat ini mungkin hal yang sulit. 

Ayah ingat kecelakaan yang menimpa adek 5 tahun yang lalu? Iya, kecelakaan yang menyebabkan otak sebelah kanan ini lebam dan di hasil scan terlihat otak kananku dipenuhi bintik hitam banyak. Ternyata selama 5 tahun ini proses penyembuhan itu tidak berjalan dengan baik. Kita mengira semua sudah selesai dan sudah sembuh kan? Yah nyatanya ternyata masih ada gangguan itu dan juga organ tubuh lainnya. Jadi, mana berani menantang medical check up? Hehe. Doakan adek cepat sembuh ya Ayah! Biar bisa kerja hebat seperti Ayah, meskipun sulit rasanya menyamai Ayah yang masuk perusahaan dengan ijazah SMP merintis dari bawah menjadi kasir hingga akhirnya menjadi Sarjana dengan jabatan tinggi di ibukota.

Ngomong-ngomong tinggal hitungan hari memasuki bulan Ramadhan. Tahun ini puasa pertama tanpa Ayah nih pasti sepi nggak ada yang ngomel-ngomel lucu pas sahur. Masih ingat tahun kemarin Ayah sanggup puasa sampai 2 minggu Ramadhan sampai akhirnya Ayah drop dan terpaksa berhenti puasa, tapi salut dalam keadaan tubuh seperti itu Ayah masih kuat puasa. O iya, kemarin waktu pulang ke rumah, aku sempat berkunjung ke rumah Ayah, keadaannya bersih dan wangi. Sepertinya habis ada orang berkunjung. Syukurlah rumah Ayah selalu di kunjungi orang-orang yang menyayangi Ayah selain kami.

Adek kangen Ayah nih, rasanya masih seperti Ayah ada terus di dekat adek. Atau memang benar iya? Hehe. Good Night, Daddy. Sleep tight.



Cinere, 08 Juni 2015
Sembari menjawab konsultasi jual-beli rumah.

Sabtu, 18 April 2015

Surat Untuk Ayah (6)

Hai Ayah! Apa kabar? Pasti baik.
Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir aku menulis surat untukmu. Sudah berganti tahun sekarang dan aku punya banyak sekali kabar untukmu, Ayah. Aku yakin Ayah sudah tahu.
13 Januari 2015 kemarin anak keduamu ini sudah berhasil melewati 1,5 jam sidang yang pelik untuk dapat lulus dari Fakultas Hukum. Nilai A kupersembahkan untuk Ayah! Kemudian tak lama kabar buruk pun datang. 17 Januari 2015, Bapak pergi menyusul Ayah. Aku kembali kehilangan lelaki yang berarti dalam hidupku. Namun, sedihku tentu tidak ada apa-apanya dibanding Mamah yang kehilangan Ayah dan Bapak dalam waktu berdekatan. Semoga kalian bertemu dan berbahagia di sana ya, kami di sini selalu mendoakan kalian. Kemudian 7 Februari 2015 aku mewujudkan mimpi Ayah. Aku wisuda dan memperoleh gelar Sarjana Hukum, sama dengan Ayah. Ayah bisa lihat fotonya disini, kita sama!







Maaf Ayah, aku tidak langsung mencari kerja. Aku beristirahat dan pergi liburan ke Bali. Ayah ingat kan aku sudah minta izin ke Bali saat membeli tiketnya dan Ayah mengizinkan, aku pergi dengan uang beasiswa. Saat di Bali aku mendapat panggilan untuk tes di kantor pengacara yang lumayan besar, tapi Mamah berkata aku butuh liburan setelah melewati tahun 2014 yang berat.


Sampai saat ini Ayah, aku belum melamar kerja ke perusahaan, aku baru melayangkan surat lamaranku ke beberapa kantor pengacara. Sudah sekitar 5 kantor yang memanggil untuk tes dan beberapa aku lolos untuk tahapan selanjutnya. Doakan aku dari sana ya Ayah. Mencari kerja sesusah ini, jatuh bangun sampai sakit. Berdesakan di bus, dan masih harus menghadang angkutan umum. Betapa salutnya aku membayangkan bagaimana sulitnya Ayah dari pertama bekerja sebagai lulusan SMP hingga S1 dengan jabatan tinggi. Masalah datang silih berganti ke keluarga kita, kata orang itu hal biasa ketika ditinggal oleh kepala keluarga. Semoga ini tidak bertahan lama dan segera selesai. Dimanapun Ayah berada, doakan aku, doakan kami, doakan aku bisa mengubah keadaan dan doakan aku bisa seperti Ayah.


Oh iya Ayah! Akhir-akhir ini air mataku sering menetes tanpa sengaja. Pikiranku dipenuhi wajah Ayah. Mungkin aku rindu, Ayah pergi sudah 7 bulan, tepat tanggal 18 ini. Rasanya saat ini ingin sekali bercanda dengan Ayah rebahan di kasur. Karena dulu, sejauh-jauhnya dan selama-lamanya Ayah dinas, tak pernah sampai 7 bulan lamanya. Suratku sampai sini dulu ya Ayah, kalau Ayah baca, main-main ke mimpi aku ya hehe.


Cinere, 18 April 2015.
Berkaca-kaca.

Sabtu, 20 Desember 2014

Surat Untuk Ayah (5)

Selamat Malam, Ayah.
Lama tidak berbincang juga berjumpa.
Tidak terasa hampir genap 100 hari kita dipisahkan oleh dimensi.

Barusan saja aku menangis, Ayah. Bukan tanpa sebab.
Awalnya, rencanaku adalah menyalakan laptop kemudian menyempurnakan isi skripsi kita yang sudah aku buat hingga bab 5.
Tapi, entah jariku tiba-tiba beranjak ke satu folder berisi foto Ayah.
Jelas sudah penyebabku menangis malam ini.

Sesak sekali rasanya, Ayah.
Jelas rindu yang sangat besar yang saat ini bersarang dalam diriku.

Oh iya, skripsiku sudah sampai sejauh ini. Sudah bab 5.
Semakin aku berusaha mengerjakan skripsiku, aku tahu maka semakin dekat aku dengan sidang, dan jelas aku sadar bahwa itu akan mengantarkanku kepada wisuda.
Hari dimana rasanya setengah hati kuinginkan. Karena aku sadar, di hari itu tidak akan ada Ayah yang berdiri menyambut keberhasilanku.

Rasanya percuma.
Tapi aku tidak akan mundur, Ayah. Karena bagaimanapun kau menginginkan ini.
Tantangan berupa lulus di semester 7, dengan judul yang kau berikan dan objek penelitian yang kau instruksikan akan aku usahakan tercapai.

Tunggu aku menyandang gelar yang sama denganmu, Ayah.
Salam rindu.

Selamat Malam, Ayah.


Cinere, 20 Desember 2014.
Di sela-sela revisi skripsi.

Rabu, 12 November 2014

Surat Untuk Ayah (4)

Assalamualaikum, Ayah.


Selamat Hari Ayah!
Setidaknya itu yang orang-orang ucapkan di media sosial hari ini. Aku juga tidak mau ketinggalan, biar bagaimanapun aku ini punya Ayah kan? hehe.

Tidak ada hadiah, karangan bunga, ataupun hadiah sapu tangan untuk Ayah di hari Ayah ini, karena di hari Ibu pun tidak pernah ada hal semacam itu bagiku. Ayah tau kan, anak yang satu ini tidak pandai bermanis-manis di depan orang tua dan selalu to the point. Entah apa maksudnya ada hari ibu dan hari ayah, darimana mereka menentukan tanggalnya dan apa sebabnya. Belakangan aku tahu bahwa hari ibu itu adalah sejarah kongres wanita pertama digelar pada 22 Desember. Ya korelasi pada peran ibu kurang dong, karena itu bukan wanita saat menjadi ibu melainkan wanita saat memperjuangkan haknya. Seumur hidup belum pernah aku mengucapkan selamat hari Ayah kepada Ayah, dan saat aku mengucapkannya bahkan Ayah sudah tidak lagi bisa berkata terimakasih.

Oh iya Ayah, tanggal 10 November kemarin mamah tepat berusia 50 tahun dan tiada perayaan bagi mamah selain berkunjung ke rumah Ayah pagi-pagi sekali untuk melaporkan bahwa beliau berulang tahun. Hahaha lucu ya mamah, mungkin mamah berharap ada kado dari Ayah.Sayangnya untuk tahun ini tidak ada lagi kado-kado mahal yang bisa didapatkan mamah. Kami tidak bisa memberi kado rumah, handphone, maupun barang mahal lainnya seperti yang Ayah berikan pada ulang tahun mamah yang sudah-sudah. Rasanya pasti kosong dan sangat berbeda dari biasanya. Mungkin tahun depan aku yang akan merasakan ulang tahun tanpa telefon pagi-pagi dari Ayah kemudian transferan uang di siang harinya untuk makan-makan dengan temanku. Bersyukur tahun ini tepat di usiaku yang ke 21 Ayah masih menelefonku di pagi hari dengan sapaain 'hai' yang khas dan 9 hari setelahnya Ayah memberiku kejutan dengan satu 'pamit'. Oh iya, Ayah harus lihat ini, satu gambar lucu Ayah dan mamah saat ulang tahun mamah kemarin. Keren loh.

Oh iya Ayah hari ini aku habis wawancara di Gedung Arthaloka Sudirman, dan sekarang masih mengetik verbatim wawancaranya. Tadi aku wawancara di divisi compliance, Ayah juga dulu pernah ada di divisi itu kan? Dan ternyata tugasnya sangat banyak dan complicated. Ayah memang hebat, susah bisa membagi semua seperti Ayah. Mana bisa aku selesaikan skripsi dalam waktu kurang dari sebulan sambil bekerja dan lulus dengan IPK tinggi, ini sudah dua bulan dan aku baru sampai BAB 3. Doakan aku agar tidak patah semangat ya, Ayah. 

Sudah dulu Ayah, sepertinya verbatimku sudah minta disentuh lagi hehe. Ngomong-ngomong terima kasih akhir-akhir ini Ayah sangat sering datang ke mimpiku bahkan ketika aku demam. Mungkin karena dulu dari kecil obat demam paling manjur untukku adalah tidur di dekat Ayah ya, sehingga di mimpi pun aku demam dan seseorang mengantarkanku ke sebuah rumah yang ternyata aku disambut oleh Ayah. Terimakasih Ayah!

Sekali lagi, Selamat Hari Ayah! Aku rindu.



Cinere, 12 November 2014. Sambil mengerjakan verbatim.